Lebih Dekat Mengenal Vuvuzela
Bagi yang tak terbiasa mendengarnya, vuvuzela memang bisa dianggap sebagai pengacau.
Selasa, 15 Juni 2010, 10:10 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
Ketenaran vuvuzela tak lepas dari kontroversi yang mencuat usai pembukaan Piala Dunia akhir pekan lalu. Tingkat kebisingan yang tercipta membuat banyak orang menentang kehadirannya di arena pertandingan.
Bagi yang tak terbiasa mendengarnya, vuvuzela memang bisa dianggap sebagai pengacau Piala Dunia. Sementara mayoritas warga Afrika merasa tak nikmat jika menonton pertandingan sepakbola tanpa meniup vuvuzela.
Penentang vuvuzela antara lain datang dari para pemain yang merasa konsentrasinya di lapangan terganggu. Demikian pula kalangan komentator sepakbola yang merasa kerjanya terganggu oleh lengkingan si terompet yang sangat memekakkan telinga.
Meski hujan protes kian deras, otoritas sepakbola dunia, FIFA, tak mengeluarkan larangan tiupan vuvuzela di arena pertandingan. FIFA agaknya sepakat dengan pendapat Cristiano Ronaldo yang mengajak pembenci vuvuzela untuk beradaptasi. "Sebagai pemain Anda memang tidak menyukainya (vuvuzela), tapi Anda harus terbiasa dengannya," kata Ronaldo.
"Vuvuzela adalah bagian dari tradisi perayaan masyarakat Afrika. Kita sekarang ada di Afrika, jadi biarkan mereka meniupnya," kata Presiden FIFA, Joseph S Blatter, seperti dikutip dari situs resmi FIFA.
Protes terhadap kehadiran vuvuzela bukan hanya lantaran suaranya yang mengganggu, tapi juga efek buruknya terhadap kesehatan. Sejumlah lembaga dunia yang peduli terhadap masalah gangguan telinga memeringatkan bahwa vuvuzela berpotensi membuat seseorang kehilangan pendengaran permanen.
Apa yang mencuat bukan sekadar ancaman. Vuvuzela memiliki tingkat kebisingan yang sangat tinggi mengalahkan drum samba Brazil atau lonceng Swiss. Tingkat kebisingan vuvuzela mencapai 127 desibel, lebih tinggi dari kebisingan yang dihasilkan drum sekitar 122 desibel, atau peluit yang hanya 121,8 desibel.
Dalam sejarahnya, vuvuzela terbuat dari tanduk rusa jantan sepanjang sekitar satu meter. Masyarakat Afrika biasa menggunakannya sebagai alat komunikasi tradisional untuk mengundang orang berkumpul.
Sekitar tahun 1965, vuvuzela mulai berkembang dengan bahan dasar alumunium. Namun, lantaran dianggap berbahaya, vuvuzela alumunium dilarang penggunaannya di area publik. Baru pada 2001, perusahaan Masincedane Sport melihat peluang pasar dengan memproduksi vuvuzela berbahan plastik secara massal.
Vuvuzela pun mendunia pada Mei 2004, saat Afrika Selatan berhasil memenangi perebutan tuan rumah Piala Dunia 2010. Kala itu, sejumlah pejabat tinggi Afrika Selatan memimpin tiupan vuvuzela di hadapan jurnalis dari berbagai media di dunia.
• VIVAnews















0 komentar:
Poskan Komentar