BERLAPIS EMAS, The Golden Pavillion atau kuil emas di kawasan utara Kyoto. Kuil ini semula vila bagi shogun (jenderal) Ashikigawa Yoshimitsu. Ketika dia meninggal, vila ini diubah peruntukkannya sebagai tempat bersembahyang (kuil) umat Buddha. Kuil emas atau kinkaku-ji menjadi salah satu landmark Kyoto. MENGUNJUNGI Kyoto seperti menyeret ke peradaban masa lampau Jepang yang menjunjung tinggi tradisi.Dan,mengunjungi Kinkaku-ji seperti membawa pada epik kehidupan shogundengan segala pertempurannya.Awal Juni yang hangat di prefektur (semacam provinsi) Kyoto. Matahari begitu murah menyiramkan sinarnya dan angin begitu ramah memberikan desirnya. Di ujung atap salah satu gedung yang terlewati dalam perjalanan, terpampang papan elektronik yang menunjukkan suhu siang itu, 32 derajat Celsius. Cukup kontras dengan tahun-tahun sebelumnya saat minggu pertama dan kedua bulan keenam selalu datang hujan.
Tsuyu (rainny season), begitu istilah warga Negeri Matahari Terbit untuk menyebut hujan rintik sepanjang hari tersebut. Namun, terang-benderang itu justru memberikan pemandangan yang mengagumkan. Potret Kyoto sebagai kota budaya dan pelajar di Jepang tergambar nyata. Di pusat kota, rumah-rumah penduduk berarsitektur lama (dengan ciri khas atap pagoda) masih banyak ditemui. Belum lagi Imperial Palace dengan segala pesonanya, makin mengukuhkan Kyoto pernah menjadi pusat pemerintahan Jepang, sebelum kemudian digeser ke Edo hingga akhirnya beralih ke Tokyo.
”Kyoto ditetapkan sebagai kyo no miyako (ibu kota) pada 974.Pada masa silam,Kyoto juga disebut Kyoraku, Rakuchu, atau Rakuyo,” jelas Susi Yamano, ibu dua anak dari Kobe yang menjadi pemandu press tour Sharp Corporation, belum lama ini. Dimulai dari Kaisar Kammu, pemindahan ibu kota itu berdasarkan sejarah,salah satunya untuk mengatasi pengaruh agama Buddha di Nara yang kekuatannya terpusat di sejumlah kuil. Sejarah panjang kota berpenduduk sekitar 1.464.990 jiwa ini memang begitu membekas.
Dan harus diacungi jempol bahwa penduduk dan pemerintahan Prefektur Kyoto hingga saat ini begitu menghormati dan menjaga warisan budaya. Tak terkecuali The Golden Pavillion atau kuil emas (Kinkakuji). Disebut kin (berarti emas dalam bahasa Jepang) karena bangunan utama kuil itu memang berlapis emas.Kuil yang didirikan pada 1397 ini awalnya didesain sebagai vila untuk Shogun (jenderal/ panglima perang) Ashikagawa Yoshimitsu. Antrean panjang di loket masuk langsung menyambut saat saya menginjakkan kaki di kuil yang begitu eksotis tersebut.
Dapat dimaklumi, selain menjadi tourist destination, Kinkaku-ji menjadi objek pembelajaran sejarah bagi anak-anak sekolah di Jepang. Siang itu pun lebih dari separuh pengunjung adalah siswa-siswa SMA. Kebanyakan mereka dari sekolah yang tersebar di Kansai,seperti Nara,Osaka, dan Kobe. ”Itteriesai....,”sapa salah satu petugas usai tiket masuk seharga 400 yen ditunjukkan. Tak butuh waktu lama dari gerbang utama untuk menuju kuil emas. Dan sungguh luar biasa.
Pancaran kuning keemasan dari kuil tua itu langsung menusuk mata. Kolam luas yang mengelilingi vila Yoshimitsu itu berpendar airnya tertimpa siraman sinar matahari dan memberikan bayangan kuil yang tenang dan anggun. Patung burung phoenix di puncakkuilitusepertimenyemburatkan aura kewibawaan dan kegagahan panglima perang di era lalu.
”Kuil ini sudah dua kali direstorasi. Selama perang Onin, Kinkaku-ji dua kali terbakar,”ujar Yoshio Takashi,salah satu penjaga kuil emas. Dia menyebut, salah satu sosok yang membumihanguskan Kinkaju-ji adalah Hayasho Oshen. Oshen berhasil ditangkap dan dipenjarakan meski akhirnya dilepas karena penyakit mental. Mengitari kuil emas seperti memberikan kedamaian abadi. Di awal Juni itu, daun-daun dari rimbun pohon yang mengitari kompleks ini memperlihatkan hijau penuhnya. Sapuan lembut angin mendatangkan kesejukan.
Dan kecipak ratusan ikan koi di kolam luas itu benar-benar memanjakan mata. Sayang, bagian dalam dari kuil tiga lantai ini tak bisa dimasuki. Pengunjung hanya bisa melihat dari luar pagar rendah yang mengelilingi. Kuil emas memang menjadi magnet utama di tempat wisata populer ini.
Kalaupun ada beberapa bangunan di sekitarnya, dulunya itu adalah tempat tinggal jenderal dan para prajuritnya. Tak perlu gelisah jika tak puas mengeksplorasi tempat yang oleh shogunAshikaga Yoshimochi itu kemudian diubah menjadi zen temple atau tempat ibadah bagi penganut Buddha. Selain berbagai kios suvenir, jika percaya,jangan lupa membeli jimat.Sumber: seputar-indonesia.com















0 komentar:
Poskan Komentar