Bukan kali ini Israel melakukan tindakan brutal dan tidak manusiawi terhadap para relawan kemanusiaan dari berbagai negara di Kapal Mavi Marmara.

Hingga Selasa (1/6/2010), dilaporkan 19 orang aktivis kemanusiaan tewas dalam penyergapan tentara Israel tersebut dan puluhan orang lainnya terluka. Namun sebelum tragedi Mavi terjadi, bangsa zionis ini sudah menumpahkan darah dengan membantai secara keji dan biadab rakyat Palestina.
Tua-muda, wanita hingga anak-anak warga Palestina yang tidak berdosa menjadi kekejaman kaum penjajah itu. Kutukan dan kecaman dari berbagai negara di dunia hanya dianggap angin lalu. Israel tetap melakukan misinya mendirikan negara di tanah Palestina.
Tua-muda, wanita hingga anak-anak warga Palestina yang tidak berdosa menjadi kekejaman kaum penjajah itu. Kutukan dan kecaman dari berbagai negara di dunia hanya dianggap angin lalu. Israel tetap melakukan misinya mendirikan negara di tanah Palestina.

Israel juga tidak sudi atas kemerdekaan bangsa Palestina. Tak ayal, sepanjang sejarah perjalanan kaum Zionis ini kental dengan perang dan pertumpahan darah di tanah Palestina. Israel menjadi biang kerok konflik di kawasan Arab ini. Meski wilayah dan penduduknya sedikit, anehnya dunia hanya bisa mengutuk keganasan Israel tanpa ada tindakan konkret.
Padahal jelas-jelas agresi terhadap Palestina adalah pelanggaran hak azasi manusia. Israel nyata-nyata menjadi penjahat perang. Namun sayangnya PBB hanya bisa mengeluarkan sederet resolusi tanpa efek, sedangkan negara Arab dan komunitas Muslim dunia pun tidak mampu berbuat banyak layaknya macan ompong.
Padahal jelas-jelas agresi terhadap Palestina adalah pelanggaran hak azasi manusia. Israel nyata-nyata menjadi penjahat perang. Namun sayangnya PBB hanya bisa mengeluarkan sederet resolusi tanpa efek, sedangkan negara Arab dan komunitas Muslim dunia pun tidak mampu berbuat banyak layaknya macan ompong.

Jika melihat karakter Israel demikian, sebenarnya tidak perlu heran. Sebab, Allah SWT melalui wahyunya dalam Alquran sudah menggambarkan sifat buruk orang-orang Yahudi yang zalim, membuat kerusakan di muka bumi, dan senang mengobarkan api peperangan dengan bangsa lainnya, terutama kaum Muslimin.
Dalam Alquran sedikitnya disebutkan 22 sifat burum bangsa Yahudi, yakni:
1. Keras hati dan dzalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An'am:20)
5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam karena dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)(ram)
sumber :http://www.kaskus.us
Dalam Alquran sedikitnya disebutkan 22 sifat burum bangsa Yahudi, yakni:
1. Keras hati dan dzalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An'am:20)
5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam karena dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)(ram)















2 komentar:
Bahkan orang Yahudi sendiri sampai berfikir seperti ini:
Israel’s apartheid: Making Palestinians pay for Hitler’s crimes
\
By Suzanne Weiss
This speech was given by Suzanne Weiss on March 2, 2010, to a meeting of students at the University of Waterloo in Canada, held as part of the Israeli Apartheid Week. Suzanne Weiss, a holocaust survivor, is a member of Not in Our Name: Jewish Voices Against Zionism and of the Coalition Against Israeli Apartheid in Toronto.
* * *
A year after a murderous Israel’s assault, the war on the people of Gaza continues. Gaza is still under siege – still surrounded by walls and checkpoints. Its people are denied the necessities of life and the right to rebuild and shape their future.
For me, as a survivor of the holocaust, the tragic situation in Gaza awakens memories of what I and my family experienced under Hitlerism – the ghetto walls, the killings, the systematic starvation and deprivation, the daily humiliations.
The tragedy of Palestine is, of course, different from the holocaust. Israel has no gas chambers. Its government does not strive to kill all the Palestinians. Israel's intention is, instead, to take the Palestinians' homeland and property and to deprive them of civil and human rights. Every case of oppression is unique, but the struggle for justice is indivisible. As we then fought for freedom for European Jews, we now call for freedom for the Palestinians.
The holocaust is linked to Palestine in another way. Many Jewish survivors of Hitler’s slaughter lost their families, homes and communities and sought a new life. There was a campaign to convince them that they needed a homeland – in Palestine. They were told lies that Palestine was an empty land, with few inhabitants. The Israeli government terrorised, brutalised and expelled Palestinians from their homelands. Palestine became a colonised settler state. Thus, the Palestinians were made to pay for Hitler’s crimes.
Like the Nazis, the Israel government enforces collective punishment. It aims to kill enough Palestinians, to punish them sufficiently, drive them out of their homeland, so they will disappear as a people. Israel seeks to remove Palestine from the world's family of nations. That too is a form of genocide.
Israel was founded as a militarised state, and a partner of British and US imperialism, of the apartheid regime in South Africa and of murderous dictatorships in Latin America.
The crimes against the Palestinians inspire guilt in the Jewish settlers and breed fear that the Palestinians might carry out a supposed new “holocaust” against them. Once again, holocaust memories are being mobilised to justify maintaining Israel as an exclusively Jewish state.
As a child in France, I survived the holocaust because a strong resistance was organised. Thousands of people – Christians, Jews and Moslems – joined the fight for freedom against the French fascist Vichy government. They struck powerful blows against racism, whose impact endures in France today. They organised a network to save Jewish people. That's why I am here today.
For me, as for many Jews today, the memory of the holocaust inspires us not to support war and oppression but to work for solidarity and freedom – in this case, freedom for the Palestinians. The Israel government claims its wars are waged on our behalf. That's a lie. We say, “Not in our name”. And in increasing numbers, Jewish people join with our Palestinian brothers and sisters to demand justice for Palestine.
Israel – an apartheid state
We raise a simple demand, in the interests of all the peoples of the region: end Israeli apartheid.
The United Nations has defined the crime of apartheid as "inhuman acts committed for the purpose of establishing and maintaining domination by one racial group of persons over any other racial group of persons and systematically oppressing them". The word apartheid, which means “separation”, was coined by the racist regime of South Africa, which denied civil and human rights to non-Europeans.
We know apartheid in our colonised country of Canada: the process through which Indigenous peoples were robbed of their lands and deprived of their livelihood, while every attempt was made to destroy their culture. The architects of South African apartheid studied Canada and took it as a model. The founders of Israel studied it too.
Today we see an apartheid state in the land of Palestine/Israel. It is symbolised by the so-called “separation wall” that confines Palestinians to segregated ghettos, by the checkpoints, the arbitrary killing and arrests, the systematic material deprivation.
How to fight Israel’s apartheid
Nelson Mandela, who led the campaign of boycotts, divestment and sanctions against South African apartheid, has said that justice for the Palestinians is "the greatest moral issue of the age". He also has stated, "We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians."
On July 9, 2005, a unified call of Palestinian civil society organisations proposed a campaign for boycotts, divestment and sanctions as a central focus for efforts to end Israeli apartheid. Boycotts, divestment and sanctions was crucial in the victory over apartheid in South Africa. Now is the time to apply this method to the catastrophic situation in Palestine.
The Palestinian resistance and freedom struggle has three demands to gain justice: (1) their right to return to their land; (2) their right to equality as citizens in Israel; (3) an end to Israeli occupation of Palestinian territory. Only an end to Israeli apartheid will permit Jews and Palestinians to forge new relations and to resolve the issue of state structures on the basis of equality.
Poskan Komentar